Kenapa malas di waktu pagi?
Manusia diberikan dua pilihan. Menjadi manusia yang menatap hari dengan optimis. Atau menjalani hidup dengan pesimis. Kita lihat begitu banyak orang beraktifitas tiap hari dengan penuh semangat mengukir prestasi. Berkarya dengan kemampuan yang ada tanpa kenal lelah menjalani dengan riang. Tiada keluh kesah.
Kegagalan, kesulitan bukanlah hal yang menakutkan. Itu hal yang biasa terjadi. Dan sesuatu yang sudah biasa tidak lagi merupakan barang yang menarik. Tidak ada tantangan lagi bagi jiwa pejantan yang tangguh. Buat apa takut gagal?
Sementara di sisi lain sana ada manusia yang meratapi nasib dengan sedihnya, seakan hanya ia yang tertimpa kemalangan di dunia ini. Tak ada yang namanya harapan, tak ada yang namanya kesempatan. Tak ada yang namanya perubahan hidup yang membuka cakrawala pandang bahwa semua orang bisa dan punya kesempatan yang sama untuk mewujudkan impian. Bahwa semua orang bisa dan mampu bermanfaat bagi yang lain. Tiap pagi hanya kemalasan yang membayangi kehidupannya.
Kenapa ada dua jalan berbeda untuk satu makhluk bernama manusia? Mari kita simak kata Kanjeng Nabi: “Syetan mengikat tengkuk pada salah satu diantara kalian sewaktu tidur dengan tiga ikatan. Syetan berkata; tidurlah lagi, malam masih panjang.. Apabila orang itu bangun lalu dzikir mengingat Allah lepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudlu maka lepaslah ikatan satunya. Dan apabila ia melakukan salat maka lepaslah ikatan itu seluruhnya. Ia akan menjadi tangkas dan tenang jiwanya. Jika tidak melakukan itu maka ia menjadi malas dan lesuâ€.
Pagi yang cerah milik orang-orang yang kembali kepada Allah, berkarya dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta disaat anak-anak onta terbagun dari pembaringannya. Menjalani keselarasan hidup yang berguna.






